Ini cerita saya ketika sebelum masuk SD, dahulu di desa saya belum ada TK, jadi kegiatan saya yang hanya bocah 5 tahunan adalah bermain.
Ketika kebanyakan teman-teman saya main sepak bola saya tidak suka ikut main, bukan karena saya tidak suka bola loh, tapi karena saya tidak becus menendang bola, setiap saya mencoba menendang bola, bola bisa melenceng lima meter dari target, saya selalu ditertawakan, saya malu, saya marah, bahkan bisa mengamuk dan mengejar siapa saja yang menertawakan saya, oh sungguh itu bukan hal yang baik dari diri saya, sehingga saya berpikir lebih baik saya tidak mencoba menendang lagi, demi menghindari saya mengamuk lagi, tentu.
Sejak saat itu saya lebih suka menjadi penonton, "ya begini lebih baik." pikirku, "kegembiraanku juga tidak bergantung pada kemenangan atau kekalahan permainan.", ternyata bukan hanya saya yang merasa menjadi penonton lebih mudah, ada salah satu teman, ya sebut saja namanya Udin.
Nah, hari itu kami bermain sepak bola di halaman sekolah SD di desaku, saya tidak ikut main, tentu saja, saya hanya duduk di pinggir dan bermain karet gelang, dan si Udin memanjat sebuah pohon ceremai yang sedang berbuah (yang rasanya super asam, bisa bikin yang ngantuk langsung melek, biasanya buahnya dijadikan manisan), sementara saya asik bermain karet dan yang lain bermain bola tiba-tiba terdengar tangisan dari arah pohon ceremai, ya, si Udin menangis karena kakinya terhimpit cabang pohon ceremai dan tidak bisa lepas, akhirnya semua merapat ke arah pohon ceremai, lalu dua anak naik untuk membantu si Udin dengan cara mengangkat tubuh si Udin, akhirnya si Udin berhasil terlepas dari jeratan pohon ceremai, lalu permainan sepak bola kembali dilanjutkan.
Entah sudah berapa lama sejak kejadian si Udin terjebak pohon ceremai, seperti kegiatan biasa kami, ya bermain, hari itu kami bermain dihalaman sekolah SD yang sama, kami bermain panjat pohon palem untuk menunggu yang lain datang, pohon ini cukup licin sehingga sulit dipanjat, kami memanjatnya seperti orang yang lomba panjat pinang, akhirnya salah satu dari kami, entah siapa dia saya lupa, telah meraih sebatang daun kering pohon palem, dan bergelantungan sampai batang daun itu copot dari batang pohonnya, dan dia pun terjatuh, bukannya kesakitan dia justru girang dan berseru "ayo kita main tarik daun, siapa yang mau naik.", lalu kami bermain tarik daun memutari teras gedung sekolah, tak berapa lama teman-teman yang lain datang, permainan tarik daun yang sangat seru (hanya menurutku, tentu saja) di akhiri, mereka mulai bermain bola, dan saya mencoba mencari kesenangan dari sebuah kertas lusuh yang saya temukan di pinggir halaman, saya berusaha membuat origami, pesawat kertas, lalu saya bongkar dan kembali saya buat perahu kertas, beberapa kali saya bongkar membuat kertas itu semakin hancur, saya pun bosan, dan tertarik untuk kembali memanjat pohon palem, kali ini saya berhasil memanjat hingga menyentuh batang daun tapi akhirnya terperosot hingga pangkal pohon, akibatnya kaki kanan saya terjepit diantara dua pohon yang tumbuh berdekatan, saya mencoba melepaskannya dengan memanjat salah satu pohon, tapi jepitan pangkal pohon terlalu kuat, dan ketika saya menyerah untuk memanjat pohon untuk melepaskan kaki saya, saya justru semakin dalam terjepit, parahnya, ketika saya melihat teman-teman, mereka mulai meninggalkan sekolah untuk pulang karena hari memang sudah menjelang malam, akhirnya tangis saya pun pecah, dan mereka melihat ke arah saya, dan segera berlari menghampiri saya, tapi bukannya menolong, mereka malah menertawakan saya, oh tentu saja saya tidak suka ditertawakan, saya ingin mengamuk, ingin berubah jadi hulk, tapi keadaan saya sekarang tak akan mampu untuk melakukan apa-apa, tidak akan menguntungkan jika saya marah dan berusaha mengamuk, akhirnya saya putuskan untuk tertawa demi meminta pertolongan mereka, oh sungguh sangat sulit berusaha tertawa saat saya sedang menangis, dan marah, tapi saya berhasil tertawa, dan mereka akhirnya menolong saya, dengan bekerja sama menarik pohon palem untuk membuat jarak merenggang dan salah satu dari mereka mengangkat bokongku dan hore, mereka berhasil
Oh, saya tidak pernah melupakan itu, disaat sekarang saya telah dewasa, telah menemukan berbagai persoalan manusia dewasa yang kadang membuat saya merasa ingin kembali ke masa kecil saya, dimana masalah dapat diatasi dengan mudah, tak mampu mengatasi ya minta bantuan teman, tapi disaat dewasa, teman hanya ada saat kita senang, saat kita sengsara mereka menghindar, maka ada pepatah "saat kita sukses teman-teman kita akan tahu siapa kita, dan saat kita gagal kita akan tahu siapa teman-teman kita." tentu saja mereka yang bersedia terus menyemangati kita.
Roda berputar kawan, yang kuat harus membantu yang lemah, karena suatu saat akan tiba saatnya kita melemah dan memerlukan bantuan, tak perlu pamrih dalam menolong, karena suatu saat kita pasti akan membutuhkan pertolongan.
Maju terus dan gapai cita-citamu.